![]() |
| KSPPG Telaga Mulya 2 dan Korwil SPPG Kabupaten Karawang |
Faktasebelas.com – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Telagasari-Telagamulya 2 bergerak cepat melakukan langkah mitigasi dan evaluasi menyusul adanya laporan gangguan kesehatan pada sejumlah penerima manfaat.
Pihak SPPG menegaskan komitmennya untuk bertanggung jawab penuh, sembari menunggu hasil uji laboratorium resmi.
Korwil SPPG Karawang, Robi Sendriadi, menjelaskan bahwa salah satu titik kritis yang menjadi perhatian utama adalah waktu konsumsi makanan.
Sesuai standar operasional, makanan yang didistribusikan dalam kondisi matang memiliki batas maksimal konsumsi selama 4 jam setelah dimasak untuk menjaga kualitas dan menghindari kontaminasi.
"Kami mengirimkan makanan sekitar jam 10 pagi dengan target konsumsi maksimal jam 11 siang. Namun, fakta di lapangan menunjukkan ada makanan yang baru dikonsumsi jam 1 siang. Di sinilah pentingnya edukasi bagi masyarakat mengenai kesadaran batas waktu konsumsi makanan matang," ujar Robi.
Menu yang disajikan, yang terdiri dari nasi, oreg tempe, sayuran, dan buah pisang, telah melalui proses pengolahan yang ketat, termasuk pemisahan pencucian daging dan sayuran serta pengecekan suhu masakan.
Merespons adanya balita dan anak sekolah yang terdampak, pihak SPPG telah menginstruksikan pemantauan langsung ke klinik maupun rumah warga.
Robi menegaskan bahwa seluruh biaya pengobatan akan difasilitasi oleh SPPG.
"Balita adalah kelompok rentan yang harus dipastikan kondisinya. Satgas dan Dinas Kesehatan sudah turun melakukan peninjauan sebelum waktu Jumat pagi tadi," tambahnya.
Di sisi lain, Kepala SPPG Telaga Mulya 2, Rizki Dhafin, menyatakan bahwa dugaan penyebab gangguan kesehatan ini masih bersifat dinamis.
Mengingat keluhan baru muncul sekitar jam 9 malam, terdapat kemungkinan adanya faktor luar atau kontaminasi setelah makanan berpindah tangan.
"Kami tidak ingin saling lempar tanggung jawab. Saat ini sampel sudah masuk ke laboratorium dan kami menunggu hasilnya untuk memastikan apakah ini murni dari makanan yang kami kirim atau ada faktor luar," jelas Rizki.
Dari total 2.400 penerima manfaat, pihak SPPG terus melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada warga yang terlewat dalam penanganan medis.
Evaluasi menyeluruh terhadap alur distribusi dan edukasi kepada orang tua akan menjadi prioritas utama agar program pemenuhan gizi nasional ini tetap berjalan aman dan optimal. (Red)

